THE BAREFOOT SERPENT-Scott Morse
(Top Shelf Productions, 2003, ISBN 1891830376, colour and B/W)
Scott Morse, komikus yang populer atas karyanya Soulwind, Visitations dan Volcanic Revolver sempat mendapatkan nominasi Eisner dan Ignatz Award yang prestisius, mempersembahkan `tribute to' sutradara film legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Bagi mereka penggemar film-film Kurosawa, sudah barang tentu tidak asing lagi dengan karya-karyanya seperti Rashumon (1950), The Seven Samurai (1954) dan Yojimbo (1961). Kekuatan film-film Kurosawa terletak pada pesan manusiawinya. Banyak sutradara Barat yang terinspirasi dengan visi Kurosawa tentang kehidupan.
THE BAREFOOT SERPENT menyajikan dua kisah didalamnya. Pertama adalah biografi Akira Kurosawa yang disajikan penuh warna. Sepintas kita dapat mengikuti perjalanan hidup dan karir Kurosawa. Mulai dari masa kecil dan latar belakang keluarganya, impian dan ambisi semasa remaja, kolaborasinya dengan sahabatnya sejak kecil Uegusa, berbagai prestasi sinema dan pengakuan internasional, termasuk perjalanan hidupnya yang tidak senantiasa bahagia. Baru pertama kali ini saya mendapatkan sedikit pengetahuan atas biografi Kurosawa, walaupun beberapa karyanya sudah saya nikmati melalui DVD. Kekaguman saya bertambah dengan keindahan ilustrasi Morse yang sangat emosional. Coretan tangan dan tata warna membuat biografi Kurosawa menarik untuk dibaca berkali-kali.
Kisah kedua adalah fiksi yang terilhami berbagai karya sinema Kurosawa. Alkisah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang putri pergi berlibur ke Hawaii setelah berduka ditinggal putranya yang telah wafat. Ketiganya merenung dan membayangkan kehidupan setelah perginya putra dan kakak laki-laki kesayangan. Tokoh utamanya adalah sang putri yang mendapatkan kembali semangat hidupnya setelah berkenalan dengan seorang bocah laki-laki setempat. Bersamanya ia mencari arti kehidupan kini dan setelah kematian. Morse membawa kita (dan keluarga kecil itu) bersentuhan dengan berbagai budaya Hawaii yang terasa asing.
Ilustrasi hitam-putih dengan sedikit narasi (dan logat Hawaiian) memberikan kesan sama dalamnya dengan biografi Kurosawa yang berwarna. Apalagi Morse juga mengadaptasi berbagai tokoh dan kisah sinema Kurosawa. Hadirnya legenda the Night Marchers asal Hawaii terinspirasi dari film Dreams. Bocah laki-laki yang berkelana dan membantu sang putri terinspirasi dari film Yojimbo, sementara hubungannya antara mereka berdua terinspriasi dari film Subarashiki Nichiyobi. Kolam yang enggan menyerahkan jiwa mereka yang telah meninggal terinspirasi dari film Yoidore Tenshi. Masih banyak lagi lainnya, namun secara utuh Morse berhasil merangkaikannya menjadi satu kisah yang baru, yang mengharukan. Proses depresi para anggota keluarga, proses penyembuhan sampai pada kembalinya keceriaan terinspirasi dari pengalaman hidup Kurosawa yang pernah mencoba bunuh diri.Secara keseluruhan komik ini sangat saya rekomendasikan, terutama bagi mereka pecinta film-film karya legendaris Jepang, Akira Kurosawa.[Surjorimba Suroto]dari milis mki@yahoogroups.com
Scott Morse, komikus yang populer atas karyanya Soulwind, Visitations dan Volcanic Revolver sempat mendapatkan nominasi Eisner dan Ignatz Award yang prestisius, mempersembahkan `tribute to' sutradara film legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Bagi mereka penggemar film-film Kurosawa, sudah barang tentu tidak asing lagi dengan karya-karyanya seperti Rashumon (1950), The Seven Samurai (1954) dan Yojimbo (1961). Kekuatan film-film Kurosawa terletak pada pesan manusiawinya. Banyak sutradara Barat yang terinspirasi dengan visi Kurosawa tentang kehidupan.
THE BAREFOOT SERPENT menyajikan dua kisah didalamnya. Pertama adalah biografi Akira Kurosawa yang disajikan penuh warna. Sepintas kita dapat mengikuti perjalanan hidup dan karir Kurosawa. Mulai dari masa kecil dan latar belakang keluarganya, impian dan ambisi semasa remaja, kolaborasinya dengan sahabatnya sejak kecil Uegusa, berbagai prestasi sinema dan pengakuan internasional, termasuk perjalanan hidupnya yang tidak senantiasa bahagia. Baru pertama kali ini saya mendapatkan sedikit pengetahuan atas biografi Kurosawa, walaupun beberapa karyanya sudah saya nikmati melalui DVD. Kekaguman saya bertambah dengan keindahan ilustrasi Morse yang sangat emosional. Coretan tangan dan tata warna membuat biografi Kurosawa menarik untuk dibaca berkali-kali.
Kisah kedua adalah fiksi yang terilhami berbagai karya sinema Kurosawa. Alkisah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang putri pergi berlibur ke Hawaii setelah berduka ditinggal putranya yang telah wafat. Ketiganya merenung dan membayangkan kehidupan setelah perginya putra dan kakak laki-laki kesayangan. Tokoh utamanya adalah sang putri yang mendapatkan kembali semangat hidupnya setelah berkenalan dengan seorang bocah laki-laki setempat. Bersamanya ia mencari arti kehidupan kini dan setelah kematian. Morse membawa kita (dan keluarga kecil itu) bersentuhan dengan berbagai budaya Hawaii yang terasa asing.
Ilustrasi hitam-putih dengan sedikit narasi (dan logat Hawaiian) memberikan kesan sama dalamnya dengan biografi Kurosawa yang berwarna. Apalagi Morse juga mengadaptasi berbagai tokoh dan kisah sinema Kurosawa. Hadirnya legenda the Night Marchers asal Hawaii terinspirasi dari film Dreams. Bocah laki-laki yang berkelana dan membantu sang putri terinspirasi dari film Yojimbo, sementara hubungannya antara mereka berdua terinspriasi dari film Subarashiki Nichiyobi. Kolam yang enggan menyerahkan jiwa mereka yang telah meninggal terinspirasi dari film Yoidore Tenshi. Masih banyak lagi lainnya, namun secara utuh Morse berhasil merangkaikannya menjadi satu kisah yang baru, yang mengharukan. Proses depresi para anggota keluarga, proses penyembuhan sampai pada kembalinya keceriaan terinspirasi dari pengalaman hidup Kurosawa yang pernah mencoba bunuh diri.Secara keseluruhan komik ini sangat saya rekomendasikan, terutama bagi mereka pecinta film-film karya legendaris Jepang, Akira Kurosawa.[Surjorimba Suroto]dari milis mki@yahoogroups.com

0 Comments:
Post a Comment
<< Home